“Jadi jelas wapres PKB bukan ukuran kemenangan, PKB memang NU, tapi NU belum tentu PKB, bukan merendahkan atau membuat pesimis di koalisi ini, tapi terbukti kok selama ini seperti apa, makanya saya sampaikan bahwa pasangan ini dibentuk sebagai pasangan siap kalah.” imbuhnya.
Iskandarsyah menjelaskan bahwa politik di Indonesia seringkali memiliki elemen-elemen yang mirip dengan pertunjukan, dengan perpindahan partai dan loncatan politikus dari satu kubu ke kubu lainnya. Namun, ia mengajak masyarakat untuk tetap mengikuti perkembangan politik ini hingga akhir dan menunggu keputusan partai lain yang juga terlibat dalam koalisi, seperti PKS, apakah mereka akan tetap bersama dalam koalisi tersebut atau mengambil langkah serupa dengan Partai Demokrat dengan keluar dari koalisi.
“Politik kita seperti dagelan, ada yang loncat sana loncat sini, ada yang kesal merasa dihianati, ada yang terus gembira dengan calonnya, jadi biasa dalam politik, mari rakyat menonton dagelan ini sampai tuntas, jangan sampai miss sedetikpun berita demi berita terkait ini semua, tinggal kita menunggu keputusan partai lain yang ada didalam koalisi lainnya yaitu PKS, apa keputusannya disitu, apakah lanjut bersama-sama mereka atau mengikuti jejak Partai Demokrat hengkang dari koalisi tersebut.” terangnya.
Iskandarsyah menutup wawancaranya dengan mengajak masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan politik dan memantau keputusan partai-partai yang terlibat dalam koalisi tersebut hingga tahun 2024. (Dayat)

