Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan, BL-SEV 01 merupakan wujud konkrit Universitas Budi Luhur dalam mewujudkan visi sebagai Universitas berwawasan global berbasis kewirausahaan, teknologi, dan cerdas berbudi luhur. Sebelumnya, Universitas Budi Luhur juga sukses melahirkan mobil listrik BLITS (bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya), yang dikembangkan lagi oleh Univeritas Budi Luhur dengan melahirkan Neo BLITS, kemudian motor listrik CEV (Cargo Electric Vehicle).

“Berbagai karya kendaraan listrik tersebut sekaligus bentuk kepedulian kampus terhadap upaya peningkatan efisiensi energi, membangun ketahanan energi, konservasi energi sektor transportasi, terwujudnya energi bersih, peningkatan kualitas udara bersih dan ramah lingkungan, serta komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca,” terang Bamsoet.

Baca Juga Kejagung Periksa Lima Saksi Dugaan Korupsi LPEI Jumat, 8 Oktober 2021
Kejagung Periksa Lima Saksi Dugaan Korupsi Lpei

Kepala Badan Penegakan Hukum, Keamanan, dan Pertahanan KADIN Indonesia ini mengungkapkan, konsekuensi dari banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang beredar saat ini, sekitar 147,75 juta unit sepeda motor dan 24,6 juta unit mobil, berdampak pada tingginya subsidi BBM pada sektor konsumtif, dan bukan pada sektor produktif. Pada APBN 2021, subsidi untuk BBM jenis tertentu saja sudah mencapai Rp. 16,6 triliun.

“Dari aspek kesehatan, sekitar 60 persen kontributor polusi udara di Indonesia disebabkan kendaraan bermotor. Asap kendaraan bermotor yang menggunakan BBM tidak saja menyisakan residu gas beracun karbon monoksida, melainkan juga zat-zat berbahaya lainnya seperti timbal, nitrogen dioksida, dan karbondioksida. Menanggulangi berbagai dampak negatif dan dengan semakin menipisnya ketersediaan cadangan BBM, maka migrasi kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik adalah sebuah keniscayaan,” pungkas Bamsoet.