Baca juga: Presiden Jokowi Hadiri Silatnas PPAD Tahun 2022 di Sentul
Dikatakan Soker, selain debit air sangat kecil, akibat adanya Bendungan Cipasauran, kondisi air juga menjadi kotor oleh sampah dan lumpur.
“Sampai saat ini untuk bisa dapat air bersih saya harus membeli. Sekarang udah gak nyaman lagi mandi dan mencuci di sungai, karena airnya kecil dan kotor. Apalagi kalau lagi ada pembukaan pintu bendungan oleh pihak PT KTI, aliran sungai jadi dipenuhi sampah dan berlumpur, udah jadi gak bisa digunakan,” jelas Soker.
Soker mengaku membeli air setiap 3 hari sekali dengan biaya Rp 20 ribu, dari tetangganya yang memiliki pompa air dan memasang selang ke sungai.
“Air bersihnya diambil oleh perusahaan untuk dijual ke industri, kami disini warga di sekitar aliran sungai malah membeli air untuk kebutuhan sehari-hari,” imbuhnya.
Warga lainnya Suardi juga mengaku bahwa warga selama ini menjerit karena sudah kurang bisa memanfaatkan Sungai Cipasauran untuk kehidupan sehari-hari.
“Warga di sini kan ada yang mengambil air dari sungai pakai pompa air, tapi airnya kecil dan kadang kotor. Apalagi kalau pintu bendungan dibuka, sungai jadi dipenuhi lumpur dan kesulitan air bersih,” jelas Suardi.
Ditegaskan Suardi bahwa Sungai Cipasauran merupakan urat nadi kehidupan warga, dan juga telah lama menjadi tempat interaksi sosial dan ekonomi warga sekitar aliran sungai.
“Sebelumnya warga bisa menikmati mandi mencuci di sungai, cari ikan, tempat anak-anak bermain dan juga tempat menyimpan perahu nelayan. Tapi sejak beberapa tahun sungai ini dibendung, warga sekitar sungai jadi tidak bisa lagi menikmati manfaat sungai ini,” jelasnya.
Di saat kondisi musim penghujan, debit air diakui Suardi bertambah dan air yang mengalir melewati bendungan cukup lumayan, tetapi jika kemarau debit air sangat kecil.
“Kalau hujan seperti sekarang, memang sungai ada airnya tetapi keruh, apalagi kalau pintu bendungan sering dibuka akan bikin lumpur mencemari sungai. Tapi kalau musim kemarau, air sungai jadi sangat kecil dan kotor. Intinya warga jadi kurang bisa mengambil manfaat sungai, yang diuntungkan cuma perusahaan,” tegasnya.
Warga meminta perusahaan dan pemerintah berkomitmen untuk kegiatan bendungan PT KTI tidak mengganggu kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Warga menuntut sumber daya air di Cipasauran ini harus diprioritaskan lebih utama untuk kebutuhan pokok warga di sekitar aliran sungai .
(Mohamad Rohim)




