Sementara itu, kejadian nahas yang merenggut nyawa satu siswa itu menyisakan trauma bagi siswa maupun orangtua. Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh Sentra Antasena Magelang, diketahui sebagian siswa masih menunjukkan keengganan untuk pergi ke sekolah karena melihat langsung temannya tertimpa atap. Hingga saat ini, anak-anak masih diliburkan.
Mengetahui hal tersebut, Kemensos melalui Sentra Antasena di Magelang menurunkan Tim Layanan Dukungan Psikososial untuk memulihkan trauma anak-anak.
“Dari hasil asesmen, memang anak-anak memerlukan layanan dukungan sosial (LDP) untuk pemulihan trauma. Dari Sentra Antasena, kita menurunkan pekerja sosial dan penyuluh sosial untuk berikan kegiatan rekreatif agar anak-anak bisa sejenak melupakan kejadian traumatis itu,” kata Kepala Sentra Antasena, Mas Kahono Agung.
LDP dilakukan selama dua hari dari tanggal 14 hingga 15 November bertempat di Balai Kalurahan Playen, Gunungkidul. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua sesi, sesi pertama untuk siswa kelas 3 hingga 6 dan sesi kedua untuk murid Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-kanak (TK), dan siswa kelas 1 dan 2.
Setiap sesi dihadiri oleh lebih dari 300 anak. Pada kegiatan LDP, anak-anak diberikan terapi untuk menghilangkan trauma dan kecemasan. Di antaranya dengan kegiatan menggambar, bernyanyi dan bermain. Salah satu yang menonjol adalah terapi kupu kupu atau metode _butterfly hug_ , yaitu satu metode terapi dengan cara memeluk diri sendiri untuk mehilangkan stress dan kecemasan.
Anak-anak mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka juga diajak mengikuti lomba-lomba dalam rangka hari pahlawan.
Adapun kegiatan LDP terlaksana dengan baik atas kerja sama dengan berbagai pihak, diantaranya Tim Disaster Manajemen Center UAD, Muhamadiyah Disaster Manajemen Center DIY, Ikatan Psikolog Klinis DIY, Lazizmu dan Relawan Muhamadiyah.
Kemudian, Sentra Antasena juga memberikan bantuan biaya pemakaman bagi keluarga korban meninggal senilai Rp2 juta.
Sebelumnya, atap SD Muhammadiyah 3 Bogor Playen Gunung Kidul roboh pada Selasa (8/11). Kejadian ini berlangsung saat proses belajar mengajar masih berlangsung hingga menyebabkan satu anak meninggal dunia dan 11 lainnya mengalami luka-luka.
