Resesi
The Fed menegaskan kembali tentang resesi AS yang ringan di akhir tahun, meskipun pasar tenaga kerja negara itu tetap stabil. Data yang direvisi minggu ini menunjukkan bahwa 20 negara zona euro bakal ambles ke dalam resesi sekitar pergantian tahun.

Kenaikan suku bunga dan inflasi yang tinggi membebani konsumen dan bisnis di kedua wilayah, meskipun kenaikan harga telah berkurang dalam beberapa bulan terakhir.

Kemudian, bagaimana kaitannya dengan Indonesia?
Indonesia masih memiliki sejumlah risiko yang harus dihadapi selama 2023-2024. Diantaranya, melandainya harga-harga komoditas andalan ekspor karena permintaan global saat ini melemah.

“Situasi saat ini dinamis. Berbagai kemungkinan bisa terjadi dengan kenaikan suku bunga, capital outflow terjadi di seluruh negara berkembang dan bisa mempengaruhi nilai tukar, suku bunga, dan inflasi. Melemahnya permintaan global karena pertumbuhan global melandai akibat berkepanjangannya tren kenaikan suku bunga acuan di negara maju.” Ujar, Ketua Bidang Perdagangan DPP AMPI ini

Belakangan ini, masih berlanjutnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri manufaktur yang ada di Indonesia. Informasi PHK massal datang dari produsen sepatu Adidas yakni PT Panarub Industry di Tangerang, Banten. Sebanyak 1.400 karyawan dikabarkan terkena PHK.

Kondisi yang terjadi saat ini disebabkan oleh situasi global yang masih belum stabil. Sehingga, menyebabkan permintaan terhadap alas kaki buatan Indonesia menjadi berkurang.

Selain PT Panarub Industry, kabar PHK lainnya datang dari PT Horming Indonesia, produsen sepatu merk Puma melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak 600 dari 2.400 karyawan dikarenakan menurunnya permintaan pesanan.

Kondisi PT Horming hampir sama dengan PT Tuntex, produsen pakaian Olahraga merk Puma yang tutup dan mem PHK 1.200 karyawannya pada April lalu.

“Semoga perekonomian di Indonesia dapat segera bangkit. Sehingga, tidak ada lagi perusahaan yang menambah daftar panjang PHK massal.” Tutup Politisi Muda Partai GOLKAR ini