“Dengan satu data ini, maka publik akan lebih mudah dalam mengakses layanan seperti pendidikan, kesehatan, pernikahan, SIM dan lainnya. Basis data ini adalah nomor induk kependudukan (NIK),” kata Fauzin.
Untuk mendukung kesuksesan Satu Data Indonesia ini, saat ini juga tengah dibangun Satu Data Kementerian Agama (Kemenag). Sebagai rintisan, Kemenag telah memulai dengan pembuatan aplikasi terintegrasi Pusaka. Dari aplikasi ini, seluruh data pegawai telah terekam yang akan memudahkan dalam pengurusan kepegawaian. Selain itu, Pusaka juga memiliki beberapa layanan terpadu seperti pendaftaran haji, pelatihan online, beasiswa dan layanan pengaduan masyarakat. Aplikasi ini menargetkan mampu melayani seluruh umat beragama yang ada di Indonesia.
Fauzin meminta para pimpinan kampus memiliki kesadaran literasi digital yang memadai kemudian mempraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara demikian, maka tranformasi layanan digital yang merupakan salah satu program prioritas Kemenag bisa terwujud sepenuhnya karena dijalankan secara totalitas seluruh elemen kampus.
“Agar kita melek digital maka harus berpegang pada tiga kunci yang disingkat DNA, yakni adanya device (peralatan yang mendukung), networking (memiliki jaringan pertemanan yang luas dan application (kecermatan mililih software atau aplikasi). Kita harus gunakan aplikasi yang terpercaya Agar data kita lebih aman dan antisipasi penjualan data pribadi secara ilegal,” tandasnya.
Sekolah Digital Leadership yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya berlangsung selama dua hari. Selain Akhmad Fauzin, kegiatan yang dibuka oleh Rektor UIN Sunan Ampel Akh Muzakki ini juga menghadirkan Staf Khusus Menteri Agama RI Wibowo Prasetyo sebagai narasumber. Peserta sekolah digital ini adalah para pimpinan level universitas dan para dekan.

