Teropongistana.com SUMENEP – Musim panen garam di daerah seringkali menghadirkan tantangan tersendiri bagi petani. Masalah utama yang dihadapi adalah penyerapan hasil garam yang tidak optimal, sehingga menyebabkan penumpukan stok yang berdampak pada turunnya harga dan merugikan petani.

Hal tersebut menjadi perhatian serius Ketua Umum DPP Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, saat mengunjungi lahan pertanian di Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Rabu (12/2) kemarin. Kunjungan Don Muzakir didampingi Ketua DPW Tani Merdeka Jatim, Riki, Ketua DPD Tani Merdeka Sumenep, Achmad Jailani.

Baca Juga KITA Lebak Lakukan Konsolidasi Kepengurusan Senin, 10 Februari 2025
Kita Lebak Lakukan Konsolidasi Kepengurusan

Don Muzakir mengaku prihatin melihat nasib petani garam di daerah. Anomali harga yang tidak stabil membuat petani garam memilih menumpuk hasil produksi alih-alih menjualnya. Kesejahteraan petani garam tentu sangat dipertaruhkan di tengah harga garam yang jauh bahkan dari biaya produksi petani.

“Bagi petani garam, masalah harga yang rendah bukan hanya soal pendapatan yang tidak mencukupi, tetapi juga soal keberlanjutan usaha mereka. Banyak petani yang terpaksa menanggung kerugian besar setiap kali panen, karena biaya produksi yang tinggi—mulai dari pembelian alat dan bahan, hingga biaya tenaga kerja—tidak sebanding dengan harga jual garam,” terang Don.

Diterangkan Don, kunjungannya kali ini ke Madura dalam rangka menyerap aspirasi dan keresahan petani Garam. Hal ini penting sebagai bahan pertimbangan untuk diteruskan ke instansi pemerintah, seperti Kemendag, PT. Garam, dan lainnya.

“Setidaknya, kita dorong pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan PT Garam untuk menerbitkan Harga Eceran Tetap (HET) untuk garam lokal ke depan. Hal ini penting untuk meningkatkan dan melindungi petani atau petambak garam di daerah,” ungkap dia.