Teeropongistana.com Jakarta – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 4,91% atau setara dengan 7,47 juta jiwa, jumlah yang lebih besar dari total populasi Singapura yang sekitar 5 juta jiwa.

Jika tidak segera ditangani, situasi ini bisa menjadi malapetaka demografi. Tidak heran, jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 3,3 juta orang, pemain judi online 11 juta orang, dan pengguna pinjaman online 129 juta akun.Kontribusi tingkat pengangguran terbuka juga cukup tinggi di kalangan lulusan perguruan tinggi, dengan lulusan diploma sebesar 4,83% dan lulusan universitas 5,25%.

Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua, karena permasalahan ini belum menemukan solusi yang efektif hingga saat ini. Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan sarjana antara lain:

1. Kesenjangan keterampilan dengan kebutuhan pasar kerja – Banyak lulusan yang tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

2. Kurikulum yang kurang adaptif Sistem pendidikan yang belum sepenuhnya mengikuti perkembangan dunia kerja membuat lulusan kurang siap bersaing.

3. Aspirational mismatch – Lulusan universitas cenderung memiliki ekspektasi tinggi terhadap pekerjaan yang diinginkan, tetapi tidak sesuai dengan realitas pasar kerja. Hal ini menyebabkan mereka lebih lama menganggur dibandingkan lulusan SMA atau diploma.