Menurut Britania, makan siang sekolah yang dikelola kantin adalah salah satu alternatif yang bisa dipilih untuk penyediaan menu makan sehat untuk siswa yang melibatkan orang tua siswa, masyarakat dan pengelola kantin. Adapun bahan pangan dibeli dari pedagang dan peternak di sekitar sekolah.
Untuk sekolah yang masih memiliki lahan hijau, bisa dibantu, disuport dengan kebun sayur, sehingga makan siang berasal dari kebun yang letaknya dekat dengan dapur dan dapat disediakan area mengompos, dimana hasil panen komposnya dapat menutrisi tanaman di kebun. Jika memungkinkan bisa ditambahkan kandang ayam semi umbaran yang dapat menghasilkan telur dan daging ayam.
Seperti inilah seharusnya program MBG yang kita bayangkan pada awalnya, dikelola oleh sekolah dengan memikirkan keterlibatan semua pihak di sekolah tersebut. Mulai dari guru, siswa dan kantin yang sudah ada, sedangkan menu makanan lokal yang tidak kalah bergizi, menggunakan bahan pangan yang tersedia disekitar sekolah, selain itu wali murid yang bergiliran jadwalnya untuk membantu.
Britania Sari adalah seorang wanita inspiratif yang memulai Gerakan ketahanan pangan dari halaman rumahnya, juga menciptakan Kebun Atqiya di daerah Bogor untuk memenuhi kebutuhan pangan sehat dan mengajarkan pentingnya mencintai lingkungan kepada anak-anak, melalui kombinasi berkebun dan beternak ayam secara organik, mulai berkebun sejak tahun 2014 secara otodidak.
Hal yang sama dikemukakan oleh Fadhil As Mubarok, Chairman of Mubarok Institute yang menegaskan bahwa Dapur Sekolah bisa menjadi salah alternatif solusi atas persoalan yang muncul dalam program MBG.
Yang jelas, lanjut Mubarok, dengan Dapur Sekolah bisa menghemat banyak anggaran, terhindar dari keracunan serta masyarakat sekitar bisa ikut menikmati.
