“Pak Prabowo tegas, konsepsional, dan terukur,” jelas Menag, menyiratkan bahwa Indonesia kini siap menjadi think tank dunia Islam—atau setidaknya siap membuka lokakarya penyusunan konsep setiap kali Presiden berbicara di luar negeri.
Konferensi: Ribuan Peserta, Puluhan Delegasi, dan Satu Pertanyaan Besar: “Why Indonesia?”
Konferensi internasional bertema ambisius “Why Indonesia as a New Center of Muslim Civilization?” dihadiri lebih dari 2.500 peserta—angka yang menurut panitia “diperkirakan mencapai 3.000 orang”, sebuah pernyataan yang menunjukkan iman kuat pada kemungkinan peserta tambahan yang datang di jam-jam terakhir.
Rektor UINSA, Akhmad Muzakki, menyebut forum ini sebagai momen penting “untuk mengusung Islam Indonesia sebagai solusi masalah global”—pernyataan yang terdengar seperti tawaran promosi menarik dalam katalog peradaban dunia.
Narasumber internasional seperti Greg Barton menambah nuansa global, sementara para pimpinan PTKIS se-Jawa Timur memperkuat nuansa lokal yang tak kalah mendalam. Berbagai konsul negara sahabat turut hadir, mungkin sambil bertanya dalam hati apakah setelah ini Indonesia benar-benar akan mengirim ide dalam bentuk paket diplomatik.
Acara ditutup dengan Deklarasi Surabaya for Global Peace and Harmony, sebuah deklarasi yang dibacakan bersama mahasiswa internasional—sebuah upacara yang terlihat megah, meskipun isi deklarasinya tetap berharap dunia suatu hari nanti mendengarkan.
Pernyataan Menag tentang Indonesia sebagai produsen gagasan Islam global menandai babak baru dalam diplomasi nasional: dari negara penyelenggara haji, kini naik kelas menjadi eksportir pemikiran strategis peradaban.
Kini publik tinggal menunggu:
Setidaknya, kalau benar Indonesia sudah siap jadi produsen, semoga ini bukan seperti banyak pabrik lain: megah di peresmian, tapi sunyi di produksi. (Kei)

