Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, bangga karena MQK tahun ini berbasis digital. Semua seleksi dan penilaian online. Tapi beberapa santri mengaku baru bisa upload berkas setelah naik ke tower masjid untuk mencari sinyal. Benarkah begitu?
Malam harinya, panggung MQK beralih fungsi: dari kitab kuning ke konser. Veve Zukfikar, Raim Laode, hingga Budi Doremi tampil. “Inilah wajah pesantren modern,” kata seorang pejabat Kemenag. Tapi bukan bukan mustahil dikekinian, Santri pagi membaca Al-Jauhar al-Maknûn malamnya bisa jingkrak-jingkrak sambil teriak “Komang”.

MQK kali ini juga ditutup dengan penanaman pohon di halaman pesantren. Panitia berharap pohon itu jadi simbol kebangkitan peradaban Islam. Para santri berharap lebih realistis, kelak pohon itu bisa jadi tempat gantung jemuran sarung.
Dengan semangat Golden Age Islam, Menag berharap MQK akan melahirkan ilmuwan muslim kelas dunia. Namun, hingga saat ini, capaian paling nyata adalah lahirnya santri-santri yang makin mahir membaca kitab kuning sambil live di TikTok. (Kei)


