Capres-capres juga ditantang Fahri untuk keliling debat soal Pancasila di Lemhanas dan pesantren-pesantren, soal relasi agama dan negara di depan para pemuka agama-agama, dan soal agenda strategis pendidikan bangsa di depan para guru besar? Soal cara memberantas korupsi di depan fakultas hukum dan soal lainya.

“Kita ingin dengar sikap capras-capres soal konflik dan dagang antara negara2 besar khususnya Amerika dan China, lalu posisi kita di laut china selatan serta gagasan apa untuk kerjasama pasifik. Bagaimana masa depan ASEAN dan GNB serta serangakain inisiatif RI dari masa lalu?” sambungnya.

Baca juga : Presiden Jokowi Apresiasi Peparnas XVI Papua 2021

Fahri menganggap wajar keinginannya dan orang-orang yang setuju dengannya. Sebab sayang Indonesia yang luas dan besar hanya bisa memunculkan dua calon pemimpin, terlebih kalau orangnya sama.

“Maafkan jika saya membayangkan suatu yang ideal sebab negara ini layak mendapatkan yang paling ideal. Janganlah lagi pemilihan pemimpin kayak kemarin, beli kucing dalam karung dengan debat ala kelompencapir. Out of the blue alias ujug-ujug calon tinggal dua podo wae sami mawon,” ucapnya.

Fahri yang juga mantan Wakil Ketua Komisi III DPR RI ini meyakini bahwa elite politik Indonesia tahu mereka tengah ditipu mekanisme Pilpres, atau sengaja menipu diri sendiri. Karena itu, dia menyayangkan kalau Pilpres langsung saat ini dilaksanakan sekadar basa-basi, padahal kalau mau Indonesia bisa menggunakan sistem tak langsung.

Baca Juga NGERIH…!DPR RI Apresiasi Menpora, Ini Penyebabnya Jumat, 12 November 2021
Ngerih...!Dpr Ri Apresiasi Menpora, Ini Penyebabnya

“Saran say, sebaiknya sistem pemilu legislatif (Pileg) diubah menjadi sistem pemilihan distrik, dan anggota MPR hasil pemilihan distrik itu yang memilih presiden. Daripada kita memilih sistem Pilpres langsung, tapi nggak ada capras-capres yang mau tarung terbuka, ya mendingan Pileg dibuat sistem distrik lalu MPR memilih presiden dari anggota MPR terpilih. Keduanya lebih jelas dan terus terang. Gak nipu diri dan adu domba rakyat,” kata Fahri mengusulkan.

Karena, dia melihat, capres-capresan ini mereduksi kebesaran negara Indonesia, bahkan seperti penipuan para elite politik di Jakarta kepada seluruh rakyat Indonesia. Kenapa masalah capres ini selalu Jakarta sentris dan itu hal yang menyebalkan baginya.

“Lama-lama capras-capres ini mereduksi kebesaran republik ini. Semacam penipuan elite Jakarta terhadap rakyat di se-antero negeri. Kita harus koreksi sirkus Jakarta sentris ini. Indonesia luas, rakyatnya banyak dan beragam. Masak pemimpinnya cuman 2 alternatif. Menyebalkan!” tukasnya. (Nanang)