Teropongistana.com Jakarta – Di tengah riuh rendah seruan efisiensi anggaran yang terus digaungkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi sorotan publik akibat isu pengadaan ribuan unit mesin pencetak yang dinilai memboroskan keuangan negara. Menanggapi berbagai tuduhan dan pertanyaan yang beredar luas, Inspektorat II BGN, Frans Hero Kamsia Purba, akhirnya memberikan penjelasan resmi.

Dihubungi melalui pesan singkat pada malam hari, Frans menyampaikan bahwa seluruh proses dan rincian proyek tersebut sedang dalam tahap pengawasan dan pemeriksaan menyeluruh.

“Malam Pak, Bapak bisa verifikasi ke PPK ya Pak, saat ini BGN lagi di Audit BPK dan internal juga,” ungkapnya singkat namun jelas lewat pesan WhatsApnya, Kamis (23/4/2026)

Namun, penjelasan tersebut tampaknya belum cukup memuaskan rasa ingin tahu masyarakat. Pasalnya, di balik isu ini tersimpan sebuah ironi yang terasa sangat tajam. Lembaga yang memikul tanggung jawab besar atas masa depan gizi anak bangsa ini justru dituding menjadi ladang pemborosan yang mencederai akal sehat publik.

Isu ini berkembang bak bola salju yang kian membesar saat terungkap rincian anggaran yang dikeluarkan. Disebutkan, BGN mengucurkan dana yang sangat besar untuk membeli ribuan unit mesin cetak tersebut, dengan harga yang ditetapkan mencapai Rp12 juta per unitnya.

Angka ini memicu tanda tanya besar, apalagi setelah dilakukan penelusuran di lapangan serta kajian yang dilakukan oleh para pegiat transparansi anggaran. Hasilnya menunjukkan bahwa harga pasar wajar untuk perangkat dengan spesifikasi serupa ternyata berada jauh di bawah angka tersebut, yakni tidak sampai Rp6 juta per unit. Selisih yang mencapai hampir 100 persen itu pun langsung menimbulkan kecurigaan kuat adanya praktik penggelembungan harga atau mark-up yang dilakukan secara sistematis, demi meraup keuntungan pribadi maupun kelompok dengan mengorbankan uang rakyat.