Dalam aksi tersebut, massa juga menolak ajakan untuk masuk ke dalam kompleks parlemen. BEM SI meminta perwakilan DPR RI keluar menemui massa aksi dan berdialog secara langsung di lokasi demonstrasi.
“Kami tidak mau untuk kami yang masuk ke dalam, dan kami ingin perwakilan daripada Dewan Perwakilan Rakyat menemui massa aksi di sini. Kita duduk bersama-sama, kita berpanas-panasan di sini, tidak duduk diam karena lagi-lagi diam adalah sebuah pengkhianatan,” tutur Farizal.

Dalam aksi itu, BEM SI membawa sejumlah tuntutan, antara lain mengevaluasi kembali pengesahan RUU Polri, menstabilkan nilai tukar rupiah dengan menghentikan pemborosan APBN, mengevaluasi program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, serta meminta Presiden dan pemerintah mengakui kegagalan dalam kepemimpinannya.
Di hadapan massa, para orator juga menegaskan bahwa mahasiswa bukanlah musuh negara, melainkan bagian dari masyarakat yang peduli terhadap kondisi bangsa.

“Ini bukti mahasiswa cinta negeri ini, bahwa mahasiswa bukan antek-antek asing,” teriak salah seorang orator.
Orator lainnya menegaskan bahwa mahasiswa hadir untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.

“Di sini kita bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi sebagai wakil rakyat. Kitalah wakil rakyat sebenarnya, teman-teman, bukan yang ada di dalam,” serunya.


