Namun, JAGATANI menegaskan bahwa ketegangan ini membuktikan adanya sumbatan komunikasi yang harus segera diurai.

“Energi besar ada di kedua pihak: mahasiswa berjuang membela rakyat, pemerintah berniat membuka diri. Jangan sampai energi ini habis hanya untuk benturan di lapangan,” katanya.

JAGATANI mendesak agar peristiwa ini dijadikan titik balik. Pemerintah harus menjawab kritik dengan kebijakan nyata yang melindungi lahan petani, sementara mahasiswa diharapkan terus mengawal jalannya pemerintahan melalui dialog dan tawaran solusi yang konstruktif.

“Keadilan agraria dan kemandirian pangan tidak akan tercapai jika kita terpecah. Jadikan kritik sebagai jalan perbaikan, bukan alasan untuk saling menjauh,” pungkas Maslam.