Teropongistana.com Jakarta – Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), PT Global Employment Outsourcing Group (GEOGROUP), Beijing Employment Promotion Center, dan Shanghai Employment Promotion Center resmi memperkuat kerja sama strategis dalam pengembangan pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, integrasi pendidikan dan industri, serta pembangunan pusat pelatihan praktik publik di Indonesia.

Kerja sama yang ditandatangani dalam forum China–Indonesia Symposium on Collaborative Development and Cooperation in Vocational Skills ini menjadi langkah konkret dalam menjawab tantangan transformasi industri global yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, manufaktur cerdas, energi baru terbarukan, semikonduktor, serta berbagai sektor industri masa depan yang membutuhkan tenaga kerja berkompetensi tinggi.

Direktur Beijing Employment Promotion Center, Li Yong, menjelaskan bahwa perubahan teknologi telah menciptakan tantangan baru berupa ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri. Di Tiongkok, jumlah pekerja pada sektor pekerjaan baru telah melampaui 84 juta orang, sementara Indonesia memiliki sekitar 4,4 juta pekerja pada sektor gig economy yang terus berkembang.

Menurut Li Yong, tantangan tersebut hanya dapat diatasi melalui kolaborasi erat antara dunia pendidikan, pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan dunia kerja. Untuk itu, Beijing mengembangkan model pelatihan yang mengintegrasikan kebutuhan industri, pelatihan keterampilan, sertifikasi kompetensi, dan layanan penempatan kerja dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

«”Kebutuhan industri harus menjadi dasar penyusunan pelatihan. Pendidikan, peningkatan keterampilan, sertifikasi, dan layanan ketenagakerjaan harus berjalan dalam satu sistem yang terintegrasi agar mampu menghasilkan tenaga kerja yang benar-benar siap menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan pasar kerja global,” ujar Li Yong, Rabu (24/6/2026)

Dalam sesi pemaparan akademik, Ketua Dewan Pakar Asosiasi Dosen Indonesia, Prof. Dr. Djoko Wintoro Poernomo, menegaskan bahwa tantangan terbesar pendidikan tinggi dan vokasi Indonesia saat ini bukan hanya menghasilkan lulusan dalam jumlah besar, tetapi memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri yang berkembang sangat cepat.