“Hari ini masa nya Kholid Ismail, belum tentu besok, bisa orang lain. Maka baik-baik lah menggunakan massa itu,” ungkap Kholid.

Menghadapi tantangan hari ini, Kholid katakan adalah bagaimana menggunakan distrubsi teknologi yang sudah memporak porandakan kebudayaan masyarakat. Salah satu contoh transisi tersebut, melihat kemarin pada situasi Covid-19.

Baca Juga Jaga Toleransi, Guru di SMPN 10 Bukber Bersama Sabtu, 16 April 2022
Jaga Toleransi, Guru Di Smpn 10 Bukber Bersama

Pimpinan wilayah seperti camat mungkin sulit mengumpulkan para guru untuk kegiatan belajar siswa nya secara tatap muka, karena memang ada pandemi Covid-19. Menurut Kholid ini adalah suatu tantatangan merubah paradigma yang lama menjadi yang baru.

“Maka pemanfaatan distrubsi teknologi sangat penting bagi kita apalagi untuk kalangan para pelajar. Tentunya dua tahun lalu belajar tatap muka sudah keharusan, tidak datang kesekolah sudah pasti di tulis alpa atau bolos. Sekarang ada yang disebut dengan daring atau belajar online, nah ini kemudian ada jeda waktu bagaimana tidak mau terjadi tawuran yang melakukan penyalahgunaan teknologi,” papar Kholid.

“Punya handpone bukan untuk sarana belajar, malah untuk berkomunikasi kegiatan negatif berkat berita yang buruk hingga menimbulkan prasangka negatif antar kelompok pelajar kemudian memicu keributan. Pagi izin berangkat ke sekolah engga tau nya malah ngumpul disuatu tempat, penyebabnya kenapa ? karena menggunakan teknologi yang tidak arif dan bijak,” sambungnya.

Oleh karenanya, Politisi PDI Perjuangan ini berpendapat bahwa harus diperkuat macthsvorming nya jika mengutip kata Soekarno yaitu memaksakan suatu kelompok untuk taat, tunduk dan patuh terhadap peraturan.

“Jangan biarkan seolah kegiatan buruk dibilang tradisi,” tandasnya.

Terakhir, Kholid mengungkap terkait menyikapi bonus demografi sosial di tahun 2030 dimana usia muda lebih banyak dibanding usia yang tua. Bagaimana peran anak muda kalau hari ini disuguhkan dengan kemanjaan, indisipliner, ia meyakini ini akan menjadi wacana buruk buat generasi negara yang akan datang.

“Maka cara terbaik menyiapkannya memberikan ruang kesempatan anak muda untuk berbuat positif yang bisa dikerjakan atau dilakukan sehingga menutupi ruang negatif,” pungkasnya.