“Dengan koefisien gaya angkat maksimum dari kedua sayap, N-219 Nurtanio bisa tetap stabil saat terbang dengan kecepatan rendah di antara gunung-gunung. Di darat N-219 Nurtanio hanya membutuhkan landasan pacu kurang dari 600 meter untuk bisa terbang serta mendarat dengan aman. Pesawat ini juga bisa mendarat di landasan pacu yang berupa tanah yang dicangkul,” urai Bamsoet.
Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia dan Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat ini menambahkan, sistem yang digunakan N-219 Nurtanio menggunakan teknologi elektronik dan avionik. Pesawat juga dilengkapi dengan teknologi terrain alerting and warning system untuk memberi pandangan 3 dimensi bagi pilot. N-219 Nurtanio dapat dilengkapi pula dengan berbagai kebutuhan misi, mulai dari troop transportation, konfigurasi medical evacuation, cargo transportation, surveillance, dan search and rescue (SAR).
“PT Dirgantara Indonesia saat ini tengah menyiapkan pengembangan pesawat N219 jenis amphibi yang sudah memasuki tahapan detail design. Selanjutnya masuk ke tahapan prototyping and structure test, development flight test dan ditargetkan perolehan amendment type certificate (ATC)/sertifikasi amphibi di tahun 2024. Kita harapkan perusahaan dirgantara Indonesia, pemerintah ataupun pihak swasta, mau mengunakan pesawat produksi dalam negeri yang dibuat PT Dirgantara Indonesia,” pungkas Bamsoet.
