Teropongistana.com
Jakarta – Demokrasi di Indonesia saat ini mengalami tantangan yang tidak ringan. Pilpres 2019 telah menanam embrio polarisasi politik akibat kontestasi politik yang antagonis. Polarisasi politik,seperti juga konflik dalam masyarakat adalah sesuatu yang melekat (inhern) dalam proses demokrasi.
Fenomena polarisasi politik akibat perbedaan pilihan politik justru tidak memudar tatkala pemilu sudah usai, sebaliknya tumbuh semakin subur dalam demokrasi di tingkat nasional dan lokal. Insiden Ade Armando adalah ekses paling negatif dari gejala polarisasi politik yang belakangan semakin kuat.
Figur Ade yang sangat pro-pemerintah dan seringkali menebar permusuhan terhadap oposisi membuat banyak orang membencinya. Sebetulnya proses penebaran permusuhan juga bukan hanya datang dari kalangan pro-pemerintah, melainkan juga
oposisi sendiri.
Proses saling serang yang difasilitasi media sosial telah dibumbui oleh ujaran kebencian dan pekatnya disinformasi. Azka Aufary Ramli beranggapan bahwa Pemilu 2024 berpeluang akan terjadi kembali hal-hal yang tidak diinginkan pada proses pesta demokrasi Indonesia,jika polarisasi yang membuahkan kebencian terus dipertahankan.
Baca juga : Perjalanan Jokowi Dari Walikota Hingga Presiden 2024








