Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan, proses membangun peradaban harus dilandasi oleh kesadaran, bahwa tidak ada satupun peradaban di dunia ini, sekuat dan sehebat apapun kelihatannya, serta akan kebal terhadap potensi kerentanan yang dipicu oleh berbagai faktor. Pasca Perang Dunia II, misalnya, Uni Soviet adalah representasi negara dengan peradaban terkuat di dunia. Namun, akhirnya runtuh pada periode 1980-an hingga 1990-an. Inggris yang sempat berjaya memimpin peradaban Barat, tergeser oleh Amerika Serikat yang menguasai hegemoni global dalam waktu yang relatif lama.
“Kita pun terhenyak, ketika mendengar bahwa saat ini Amerika Serikat memiliki tanggungan hutang sebesar Rp 404 ribu triliun, yang mengancam terhentinya roda pemerintahan (government shutdown), potensi gagal bayar (default) hingga krisis finansial. Sebagai catatan, bahwa Amerika pernah mengalami penutupan pemerintahan sebanyak 20 kali sejak tahun 1976,” terang Bamsoet.

Kepala Badan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini menambahkan, sejarah membuktikan, bahwa jatuh bangun dan dinamika peradaban adalah suatu keniscayaan, dan selalu menjadi tantangan yang akan dihadapi oleh setiap negara. Dinamika peradaban global juga mengajarkan, bahwa konstruksi peradaban tidak dapat hanya ditopang oleh pembangunan infrastruktur, yang berupaya mengubah perilaku keberadaban manusia menyesuaikan standar modernitas zaman. Semua pihak dapat melihat puncak-puncak peradaban dunia hancur karena hanya mengandalkan aspek material semata.
“Kemampuan mempertahankan dan membangun peradaban sangat dipengaruhi oleh kemampuan setiap negara untuk belajar dari masa lalu, dan melakukan adaptasi serta inovasi untuk masa depan. Namun jauh lebih penting dari itu, adalah kemauan untuk membangun jatidiri dan karakter kebangsaan, sebagai landasan fundamental agar tidak mudah limbung oleh turbulensi peradaban. Disinilah letak dasar fundamental dari urgensi membangun peradaban dalam paradigma Pancasila,” pungkas Bamsoet.



