Sekarang semua rumah hancur. Pelan-pelan pasti akan bangun (rumah) kembali. Kebutuhan akan bata pasti akan tiba. Ini peluang. Batanya tahan gempa pula. Peminat pasti banyak. Masyarakat kan banyak yang trauma akibat musibah ini.
Diharapkan melalui pelatihan ini kedepannya dapat dimanfaatkan sebagai modal penguatan ekonomi keluarga jika ditekuni dengan serius.

Sesuai dengan apa yang disampaikan Menteri Sosial RI Tri Rismaharini beberapa waktu lalu, saat mengunjungi dan memotivasi para penyintas gempa bumi ciajur di pengungsian.
Risma menjelaskan, di tengah kondisi yang terbatas, pengungsi harus tetap bertahan di pengungsian sampai rumah mereka diperbaiki.

Kementerian Sosial coba menawarkan pelatihan usaha diantaranya pembuatan bata interlock, jajanan hingga kerajinan tangan.
“Nanti kita ajarkan membuat bata supaya ada kesibukan, kita datangkan pelatihnya, karena pasti ini lama, rumah mereka banyak yang roboh. Yang penting mereka punya kesibukan terlebih dulu. Selain untuk dukungan psikososial juga bisa bantu untuk usaha,” ucap Risma.

Bisnis bata interlock sangat cocok dengan kondisi geografis Indonesia, serta dapat menjadi bisnis yang menjanjikan. Bata yang dimaksud adalah bata interlock yang dapat menjadi serbuk ketika terjatuh.
“Nanti ada khusus campurannya, kalau jatuh, dia kayak serbuk gitu. Kita siapkan, kita ajarkan. Alat cetaknya dan sebagainya, kami siapkan” terang Risma.
Tidak hanya sebatas pelatihan, Pusdiklatbangprof Kemensos telah berkoordinasi dengan berbagai toko bangunan sekitar untuk peluang pemasarannya, sudah terdapat toko bangunan yang siap menampung hasil pembuatan bata yang dibuat oleh para penyintas.
“Senang mbak, ikut pelatihan untuk mengisi kegiatan dan mengusir kejenuhan selama tinggal di posko pengungsian,” terang Asep salah satu pengungsi yang juga ikut dalam pelatihan. Mereka berharap ke depan dapat lebih mengasah keterampilan dan mempunyai usaha pembuatan batu bata.

Kepala Pusat Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof) Kemensos, Afrizon Tanjung, saat dikonfirmasi via telepon, mengatakan pelatihan ini merupakan upaya Kemensos menyiapkan penyintas menghadapi fase pasca bencana.
“Melalui pelatihan-pelatihan itu, kita berharap ada dampak berkelanjutan, tidak saja untuk mengisi waktu luang, atau menghilangkan kecemasan dan kejenuhan, tetapi juga, kita persiapkan bagaimana mereka bangkit lagi setelah nanti kembali ke rumah setelah tidak lagi mengungsi,” ungkap Afrizon. (Nanda)




