Selain itu, Forum Pendukung mengatakan kepemimpinan Said Aqil di periode depan sangat menentukan karena terdapat agenda strategis internal dan eksternal, nasional, dan internasional akan dituntaskan, seperti upaya penguatan manajemen dan database organisasi, PBNU telah merintis dan mulai menerapkan Sistem Pendataan secara Nasional Anggota NU melalui SispendaNU.

“PBNU juga telah menerapkan prinsip transparansi kebendaharaan yang sehat, yang terbuka jika setiap saat dibutuhkan audit publik. Menghadapi era society 5.0, PBNU, dalam kepemimpinan Kiai Said, juga telah dan terus menyiapkan diri. Antara lain melalui penguatan Perguruan Tinggi,” kata dia.

“NU secara nasional mempunyai 274 Perguruan Tinggi di bawah naungan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU). Tapi ini belum cukup. Sejak 2014, melalui Badan Hukum Perkumpulan NU, PBNU telah melahirkan 23 Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) dengan memfokuskan output di tiga issue terkini, yaitu science, teknologi, dan engineering. 23 UNU ini sudah berjalan dan akan terus dikembangkan,” lanjut Forum Pendukung.

Dengan fokus pada tiga hal ini, kata dia, Said Aqil masih menargetkan, dalam waktu dekat sekurangnya satu wilayah NU akan mendirikan satu Institute Teknologi dan Sains (ITS NU). Dia menyebut keberadaan perguruan tinggi berbasis science, teknologi, dan engineering ini krusial dalam kerangka mencetak kecakapan hidup era super smart society yang serba internet of things, dan serba artificial intelligence.

“Bersama Prof. DR KH. Said Aqil Siraj, Nahdlatul Ulama sampai kapan pun akan tetap menjadi organisasi penyeimbang, baik dalam peran-peran kebangsaan, sosial, ekonomi, kemanusiaan, dan politik,” tutupnya.