Oleh: Bagus Mangundiwiryo S.I.P., M.Han

Teropongistana.com – Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Tokyo awal April ini bukan sekedar kunjungan kehormatan diplomasi biasa atau sekedar seremoni “kulon newun” pemimpin baru. Ini bukan merupakan hal yang baru dalam kemitraan ini, Indonesia-Japan Maritime Forum (IJMF) yang di luncurkan sejak 2016 menjadi wadah rutin bagi kedua negara dalam membahas isyu sensitive dan strategis.

Jika kita melihat hari ini Indonesia berada dipersimpangan nadir ketegangan Kawasan baik di Laut Natuna Utara maupun dinamika di Kawasan Indo-pasifik. Secara eksistensial Jepang merupakan pemain kunci yang memiliki kepentingan keamanan langsung terhadap stabilitas jalur laut logistic laut kita, bukan hanya sekedar mitra dagang otomotif.

Iklan

Fondasi dalam satu dekade terakhir sebenarnya telah di bangun melalui kemitraan strategis, diantaranya yaitu Pembangunan Pelabuhan patimban dan revitalisasi sentra Kawasan perikanan di pulau-pulau terluar seperti Natuna, Biak, dan Marauke. Selain itu disisi lain penguatan fisik juga harus terus ditingkatkan guna meningkatkan pengawasan. Armada kapal pengawas kita masih butuh penguatan dan nelayan kita kalah canggih dari negara tetangga. Dimana realita di lapangan belum sepenuhnya ideal dan ketergantungan teknologi navigasi serta keselamatan dari pihak asing masih sangat tinggi.

Masalah: Kesenjangan Teknologi dan Tantangan Kedaulatan

Masalah utama kita bukanlah kurangnya luas laut kita, melainkan bagaimana kita mampu untuk hadir menguasai ruang tersebut secara efektif disetiap jengkal. Dalam momentum kunjungan tersebut ada tiga hal dalam hal ini, Dimana ketimbangan teknologi yang masih ketergantungan pada teknologi luar untuk system deteksi radar bawah dan permukaaan di bidang maritim. Bahkan dalam hal ini Jepang menghibahkan kapal patrol mereka untuk mendukung pengawasan dan pengamanan territorial laut Indonesia, serta mendorong kemandirian industry galangan kapal kelas berat. Disisi lain hal yang paling fundamental terkait SDM masih rendahnya sertifikasi dan perlindungan pelaut kita, padahal Indonesia merupakan negara penyumbang pelaut terbesar bagi armada niaga Jepang. Untuk mendukung pelaut yang professional kita harus dingkatkan secara aturan standar internsional yang ketat untuk tuntutan industri maritim modern yang semakin digital. Optimalisai Hub Logistik dan keamanan jalur pasokan merupakan kunci hilirisasi, Proyek strategis harus dipastikan tidak hanya sebagai pintu masuk barang jepang, malainkan sebagai pengungkit ekspor produk maritim Indonesia ke pasar global dengan di dukung alutsista pengawasan laut yang mumpuni agar mampu mengamankan territorial dan menjaga jalur pelayaran kapal niaga Internasional.