Teropongistana.com

Jakarta – Jelang 25 tahun reformasi Bulan Mei mendatang, keresahan melanda sejumlah aktifis98 yang sudah berdiaspora di berbagai sektor profesi. Masih maraknya praktik korupsi kolusi dan nepotisme, menjadi salah satu alasan mereka berefleksi dalam diskui bertajuk “Bacapres dalam Pusaran KKN”. Kegiatan ini merupakan rangkaian Konsolidasi Demokrasi Aktifis98 (KDA98).

Salah satu tagline yang disimpulkan dalam diskusi yang digelar di markas Jokowi Mania (Joman) di bilangan Kebayoran Baru (16/02/2003) ini adalah reformasi gagal karena KKN masih marak,17/02/23.

Dalam diskusi yang menghadirkan aktifis 98 yang kini aktif mendukung bacapres, yakni Sukma Widyanti aktifis KBUI yang kini mendukung Anies Baswedan, Dadi Palgunadi Aktifis Front Jakarta kini aktif di Gema Puan Maharani Nusantara (GMNP) dan Teguh Eko Prastyono aktifis dari kampus ISTN yang mendirikan Ganjar Pranowo untuk Rakyat (GUNTUR).

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Febby Lintang aktifis 98 dari kampu IISIP Jakarta, para pendukung bacapres tersebut sepakat kalau praktik KKN masih marak. Mungkin makin merajalela.

Menurut Dadi, salah satu sebab maraknya KKN adalah mahalnya biaya politik. “Ini akibat dari sistem elektoral yang masih berciri popularisme. Sehingga untuk mengejar popularitas para calon harus merogoh kocek yang dalam,” ujarnya. Dia juga menuding Lembaga survey sebagai salah satu pemicu politik mahal ini.