Sementara menyikapi adanya sinyal KKN di pusaran bacapres, Teguh akrab disapa Gus Tep meminta agar publik berpegang pada fakta hukum dan praduga tak bersalah. “Kalau Pak Ganjar disebut terlibat korupsi eKTP, buktikan dong di pengadilan. Kan sudah dijelaskan oleh KPK dan Novel (Baswedan) kalau dia (Ganjar) tidak menerima apa=apa,” ujarnya.
Hal serupa juga disampikan oleh Sukma, terkait tudingan Anies terlibat dugaan korupsi Formula E. Sukma yang pernah aktif di Dewan Riset Daerah (DRD) DKI Jakarta saat Anies menjadi Gubernur ini justru menyebut Anies telah membuat kebijakan pencegahan korupsi sejak dirinya menjadi Rektor Paramadina hingga penerapan good governance di pemda DKI. Karenanya upaya untuk menyeretnya dalam kasus Formula E terkesan sangat dipaksakan.
Tantangan kepada para pendukung bacapres ini justru datang dari salah satu peserta diskusi Nico Adrian aktifis 98 dari kampus UKI. Dia menekankan, apakah aktifis 98 yang menjadi pendukung bacapres ini mampu menjadi faktior determinan atau sekedar remah-remah saja.
“Kita pakai saja IKN sebagai batu pijak, apakah dari kalian(pendukung bacapres) berani memberi masukan untuk menolak pembangunan IKN. Setidaknya memberikan catatan sisi sisi negatif IKN. Karena, kalau ini dipaksakan untuk diteruskan bakal berpotensi jadi ladang mega-korupsi,” tandasnya.
Seluruh peserta berkomitmen bahwa proses demokrasi harus terus dijalankan dengan tidak membuka ruang bagi perpanjangan masa jabatan Presiden dan atau merevisi batasan jabatan dua periode.
Kegiatan ini ditutup dengan puisi karya dan sekaligus dibawakan oleh moderator Febby Lintang. Salah satu bait dalam puisi tersebut berbunyi, “25 tahun lalu kami menuntut pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme | Tapi kini malah korupsi merajalela dan nepotisme berubah menjadi trah politik kaum darah biru”.
