Teropongistana.com
Jakarta,- Partai Politik masih belum menjadi pilihan bagi generasi muda untuk menapaki karir. Hal itu terpotret dari hasil survei yang dipublikasikan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
Dari empat jenis perkumpulan yang ditanyakan, parpol dan organisasi sayapnya berada di posisi terendah dengan minat diangka 1,1 persen. Jauh di bawah organisasi kepemudaan, organisasi masyarakat atau organisasi mahasiswa/pelajar yang ada di kisaran 14 – 21 persen.
Azka Aufary Ramli yang merupakan Dewan Kehormatan Badan Koordinasi Nasional Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan yang merupakan salah satu Lembaga Konsentrasi Kemahasiswaan dari Organisasi Pendiri Partai GOLKAR yaitu SOKSI, beranggapan bahwa minat kaum muda untuk menjadi kader partai politik tidak selalu menghasilkan tindakan nyata. Banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk bergabung dengan partai politik, seperti keterbatasan waktu dan sumber daya, ketidakpercayaan terhadap politik, atau keengganan untuk terlibat dalam politik partai.
”Fakta bahwa rendahnya minat anak muda dalam berpartai merupakaan sebuah penurunan demokrasi, karena saat ini mayoritas penduduk Indonesia adalah anak muda. Untuk itu Partai politik yang mampu merepresentasikan kepentingan dan aspirasi anak muda dalam platform politiknya dapat lebih mudah memenangkan kepercayaan mereka. Anak muda juga cenderung mempercayai partai politik yang relevan dengan isu-isu penting bagi mereka, seperti pendidikan keterampilan, lapangan pekerjaan, lingkungan hidup, dan energi baru terbatukan lain-lain” Ujar Azka.
Pilihan untuk tidak berpartai adalah hak individu yang dilindungi oleh undang-undang. Namun, penting untuk dipahami bahwa berpartai atau aktif berpatisipasi dalam roda politik adalah salah satu cara yang paling penting bagi warga negara untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi.

