Dalam upaya menghapus paham Syiah di lingkungan Abbasiyah, penguasa Dinasti Saljuk Nizham al-Mulk mendirikan lembaga pendidikan di berbagai kota besar Abbasiyah, termasuk Baghdad, Nishapur, Isfahan, Mosul dan Basrah dengan nama Madrasah Nizhamiyah. Sebagai respon terhadap paham Syiah, Madrasah Nizhamiyah lebih menekankan pada pembelajaran agama, terutama yang beraliran teologi Asy’ariyah dan bermazhab fikih Syafii.
Menurut Syamsul, di sinilah letak kecelakaan sejarahnya, yaitu: Madrasah Nizhamiyah tidak didesain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan umum. Lembaga pendidikan itu jelas bercorak Sunni dan diarahkan untuk menentang ajaran Syiah yang sempat dibawa para punggawa Dinasti Buwaihiyah dan Fatimiyah. Porsi pembelajaran ilmu agama lebih besar daripada kajian ilmu-ilmu umum.
“Kecelakaan sejarahnya ialah madrasah-madrasah itu tidak mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Akhirnya kata Imam Al Ghazali, cari dokter yang muslim saja susah. Karena itu, apa yang disebutkan dalam Risalah Islam Berkemajuan adalah kita perlu mengejar ilmu pengetahuan,” ujar Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini. (Hendro)



