Seperti yang terjadi di tubuh negeri ini, tatkala memasuki bulan-bulan penting (Ramadhan, Syawal, maupun Zulhijah), terbersit di dalam benak pikiran masyarakat: akankah terjadi perbedaan?.

Untuk menjawab soalan itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid Prof Dr H Syamsul Anwar, MA mengatakan jika 1 Ramadhan awal bulan serempak dengan pemerintah, akan tetapi untuk awal Syawal dan Zulhijah diprediksi akan terjadi potensi perbedaan dengan pemerintah.

Hal itu dikarenakan Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, sementara pemerintah sendiri berpatokan dengan kriteria Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapore (MABIMS).

Menurut kriteria Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapore (MABIMS) tinggi bulan sekurang-kurangnya 3 derajat dan untuk elongasi (jarak bulan dan matahari) 6,4 derajat.

Ini Juga : Muhammadiyah Raih Penghargaan PPKM Award dari Presiden RI

“Itu belum terpenuhi untuk dapat dilihat. Itu kriteria MABIMS untuk hilal dapat dilihat. Kalau kriteria itu belum terpenuhi, berarti tidak dapat dilihat.

Karena belum dapat dilihat, maka menurut kriteria MABIMS keesokan harinya belum terpenuhi syarat untuk memasuki bulan baru. Sedangkan menurut kriteria Wujudul Hilal yang tidak berpatokan kepada penampakan yaitu tidak terlihat dan terlihatnya, maka keesokan harinya sudah memasuki bulan baru,” kata Syamsul Anwar.

Pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 327 Tahun 2023, Nomor 1 Tahun 2023, dan Nomor 1 Tahun 2023 yang telah ditandatangani Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, dan Menteri PAN-RB Abdullah Azwar Aznas di Jakarta, pada Rabu (29/3) menetapkan bahwa Idul Adha 10 Zulhijah 1444 Hijriah jatuh pada 29 Juni 2023. (Deni/red)