“Transparansi Tuntas Surat Izin Hak Guna Usaha (HGU) PTPN VIII”, Dalam orasinya, Abrag menegaskan pentingnya transparansi dalam pengelolaan perizinan hak guna usaha PTPN VIII. “Publik berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan tanah-tanah kami, dengan masa depan alam kami,” ujarnya dengan mata yang memancarkan tekad.
**Kehendak untuk Kejernihan, Pencopotan Direktur PTPN VIII:** Dalam tuntutan berani, para peserta aksi meminta agar Bernardus Didik Prasetyo dicopot dari jabatannya sebagai direktur PTPN VIII. “Pemimpin yang tidak memenuhi harapan tidak layak memimpin,” kata Abrag dengan suara yang menggetarkan.
**Erick Thohir, Panggilan Hati untuk Evaluasi:** Sorakan dari kerumunan semakin menggema saat Abrag menyerukan kepada Menteri BUMN, Erick Thohir, untuk secara pribadi mengevaluasi PTPN VIII yang berlokasi di Cisalak Baru, Rangkas Bitung. “Kami percaya Bapak memiliki kemampuan untuk melihat kebenaran, untuk melihat kekacauan yang tersembunyi di balik kata-kata resmi,” teriaknya, memanggil hati Thohir.
IniJuga : Walikota Tanjung Balai Minta Segera Buat Perda Terkait Penyalahgunaan Lem

**Ancaman Aksi Massa Lebih Besar:** Aksi unjuk rasa ini tidak hanya sekadar protes. Abrag memberikan peringatan keras, “Kami beri Anda waktu satu minggu, satu minggu untuk mendengarkan suara kami. Jika bisu tetap menjadi bahasa yang Anda pilih, kami akan berbicara lagi, tapi kali ini dengan suara yang lebih besar. Suara rakyat yang tak lagi bisa diabaikan.”
Aksi teatrikal ini memancarkan semangat perubahan, mengejutkan dengan dramatisasi visual yang menggugah emosi. Seperti dalam pementasan panggung besar, KEPAL telah menyampaikan pesan mereka dengan suara yang sulit diabaikan, menjadikan tuntutan mereka sebagai sorotan perbincangan di seluruh negeri.

Editor : (Deni/red)



