Teropongistana.com Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Nasional Corruption Watch (NCW) banyak menerima pengaduan masyarakat (dumas) dari berbagai sumber yang dapat dipercaya kebenarannya. Hal ini semakin serius NCW untuk terus menyuarakan perkembangan dugaan korupsi menjelang Persiapan demokrasi 2024.

Ketua Umum DPP NCW Hanif menyebut dari pengumpulan data dan informasi yang DPP NCW dapatkan gelombang korupsi sebelum Pemilu dan Pilpres 2024 semakin mengarah ke satu titik. Kata Hanif, jika dilihat dari benang merah dari hubungan terduga pelaku dan melalui media apa korupsi ini dilakukan.

“Kami prihatin dengan kondisi rakyat Indonesia menjelang pesta dan pentas demokrasi 2024 tahun depan,” kata Hanif.

“Harapan kami rakyat Indonesia akan adanya perbaikan sistem demokrasi dan pemberantasan korupsi yang lebih baik ternyata ‘masih jauh panggang dari api’. Semua partai politik sibuk dengan pencalonan Capres dan Cawapres, dan pemberantasan korupsi dijadikan senjata yang mematikan untuk mematikan lawan politik. Bahkan sekarang menyasar lembaga anti korupsi KPK karena dinilai tidak patuh kepada ‘perintah penguasa’ yang merasa memiliki republik ini,” tambah Hanif menjelaskan.

Menurut Hanif, sudah 3 (tiga) kali DPP NCW menyuarakan bahwa dugaan korupsi kepada 5(lima) menteri Kabinet Indonesia Maju Jokowi. Namun kata Hanif tidak direspons positif, apa karena semua menteri yang terduga korupsi tersebut berada di koaliasi yang sama dan mendapat dukungan dari istana.

“Apa di akhir pemerintahan Jokowi periode ke-2 harus meninggalkan noda hitam dalam sejarah pemberantasan korupsi kolusi dan nepotisme (KKN)?”, lanjut Hanif.