Rafik bahkan menduga bahwa kebijakan ini justru berpotensi merugikan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam 100 hari pertamanya, seolah-olah menjadi langkah yang melemahkan stabilitas pemerintahan.

“Hal-hal kontroversial yang dilakukan Bahlil sudah sangat mencoreng marwah Partai Golkar. Sudah seharusnya ia mengundurkan diri. Masih banyak kader yang lebih layak memimpin partai ini, seperti Adies Kadir, Anindya Bakrie, Tommy Soeharto, Airlangga Hartarto, atau Lodewijk Freidrich Paulus,” tegas Rafik.

Ia menegaskan bahwa Partai Golkar harus kembali kepada jati dirinya, yakni bekerja demi kepentingan rakyat dan menjaga integritas partai. “Golkar harus kembali pada prinsipnya, bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan,” pungkasnya.