Sebelumnya Kader muda Partai Golkar, Rafik Perkasa Alam, mendesak Bahlil Lahadalia untuk segera mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Menurutnya, berbagai kontroversi yang melibatkan Bahlil telah merugikan dan mencoreng marwah partai berlambang pohon beringin tersebut.

Baca JugaKITA Lebak Lakukan Konsolidasi KepengurusanSenin, 10 Februari 2025
KITA Lebak Lakukan Konsolidasi Kepengurusan

“Sejak awal, proses terpilihnya Bahlil sebagai Ketua Umum Partai Golkar sudah bermasalah karena dianggap melanggar AD/ART partai. Selain itu, berbagai pernyataan dan kebijakannya belakangan ini justru menimbulkan kegaduhan,” ujar Rafik di Jakarta, Selasa, 4 Februari 2025.

mencuat, seperti pidato politik Bahlil yang menyebut “Hati-hati dengan Raja Jawa” saat pelantikannya, serta polemik gelar doktor (S3) dari Universitas Indonesia yang diperoleh dalam waktu 3,5 tahun.

Selain itu, kepengurusan DPP Golkar yang masih melibatkan mantan narapidana kasus korupsi dan amoral juga dinilai mencederai citra partai.

Tak hanya itu, kebijakan kontroversial Bahlil sebagai Menteri ESDM terkait perubahan regulasi gas subsidi tanpa kajian dan sosialisasi juga memicu polemik di masyarakat.

Rafik bahkan menduga langkah tersebut justru merugikan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, seolah-olah menggembosi kinerja pemerintahan dalam 100 hari pertama.

“Hal-hal kontroversial yang dilakukan Bahlil sudah sangat mencoreng marwah Partai Golkar. Sudah seharusnya ia mengundurkan diri. Masih banyak kader yang lebih layak memimpin partai ini, seperti Adies Kadir, Anindya Bakrie, Tommy Soeharto, Airlangga Hartarto, atau Lodewijk Freidrich Paulus,” tegasnya.

Rafik menegaskan bahwa Golkar harus kembali ke khittahnya sebagai partai yang bekerja untuk rakyat.

“Golkar harus kembali pada prinsipnya, bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan,” pungkasnya.