Trump beralasan bahwa anggaran pemerintah federal terlalu besar dan banyak mengalami pemborosan serta penipuan.
“Pemerintah AS memiliki utang sekitar 36 triliun dolar dengan defisit 1,8 triliun dolar pada tahun lalu. Ada kesepakatan bipartisan mengenai perlunya reformasi untuk mengatasi masalah ini,” jelas Jerry.
Salah satu kebijakan yang dianggap berani oleh Trump adalah menarik AS keluar dari beberapa organisasi internasional seperti WHO dan USAID. AS selama ini dikenal sebagai negara donor terbesar dalam isu-isu kemanusiaan. Pada tahun 2024, USAID tercatat mengalokasikan 153,52 juta dolar AS atau sekitar Rp2,5 triliun untuk program kesehatan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan, termasuk penanggulangan TBC dan AIDS.
Selain itu, Trump juga berencana mengambil kembali kendali atas Terusan Panama, yang pada era Presiden Jimmy Carter telah diserahkan kepada Panama melalui perjanjian tahun 1977. Langkah ini dinilai sebagai upaya AS untuk kembali memperkuat pengaruhnya di kawasan Amerika Latin.
Tidak hanya itu, Trump juga berencana mendeportasi jutaan imigran ilegal yang berada di AS. Hingga saat ini, sekitar 20.000 orang telah dideportasi, bahkan beberapa dikirim ke Panama menggunakan pesawat militer AS.
Trump juga menerapkan kebijakan tarif tinggi terhadap negara-negara mitra dagang utama AS. Meksiko dan Kanada dikenakan tarif 25 persen, sementara China menghadapi tarif antara 10 hingga 15 persen, dengan kemungkinan kenaikan lebih lanjut. Trump bahkan sempat mewacanakan pengambilalihan Greenland, meskipun idenya mendapat tentangan dari negara-negara di kawasan Balkan.
Jerry menekankan bahwa dalam waktu kurang dari 100 hari, Trump telah menerapkan berbagai kebijakan yang dianggap fenomenal. Atas pencapaiannya ini, ia dinobatkan sebagai pemimpin paling populer di dunia versi majalah Time. Keberhasilan awal pemerintahannya juga tidak lepas dari peran para menteri dalam kabinetnya, seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem, Menteri Efisiensi Anggaran Elon Musk, Menteri Keuangan Scott Bessent, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Menurut Jerry, kebijakan pemangkasan anggaran yang dilakukan Trump memiliki kemiripan dengan langkah Presiden Prabowo Subianto di Indonesia. Prabowo menargetkan efisiensi anggaran hingga Rp325 triliun, yang diproyeksikan meningkat menjadi Rp750 triliun dalam tiga tahun ke depan. Kebijakan serupa juga dilakukan oleh Vietnam dan Argentina di bawah kepemimpinan Javier Milei.
Salah satu pencapaian terbesar Trump dalam kebijakan luar negerinya adalah upaya menghentikan konflik antara Rusia dan Ukraina.
“Gencatan senjata diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari ke depan,” ungkap Dr. Jerry.
Hal ini menunjukkan bagaimana Trump terus memainkan peran sentral dalam dinamika geopolitik global dengan strategi yang kerap mengejutkan banyak pihak.


