“Kurang lebih ada tiga poin utama yang hendak saya sampaikan. Pertama mengenai urgensi DPN sebagai think tank bagi Kemhan. Saat ini Kemhan memiliki PR yaitu menyusun ulang Buku Putih Pertahanan Indonesia. Bayangkan, buku itu disusun pada 2015 dan belum pernah direvisi sampai hari ini.
Padahal dinamika geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi global terus berkembang setiap waktu. Nanti DPN ini yang akan berperan dalam menyusun ulang buku itu, yang akan menjadi acuan bagi penyusunan strategi pertahanan negara ini ke depannya. Kedua soal prodesi Ahli Pertahanan Nasional, kita singkat saja APN. Saya ambil satu case, tentang UNHAN.
UNHAN itu, dari nol sampai wisuda sepenuhnya dibiayai oleh negara. Kan tidak lucu kalau lantas mereka, alumni UNHAN, justru luntang-lantung kebingungan mencari tempat mengabdi. Mahasiswa UNHAN nggak semuanya berstatus TNI/PNS lho. Ada yang fresh graduate. Ada juga yang semula di swasta lalu resign dari pekerjaannya.

Nah negara yang sudah keluar biaya untuk menyelenggarakan pendidikan bagi mereka di UNHAN ini seharusnya juga menyediakan lahan bagi mereka untuk mengabdi, dalam arti balas budi kepada negara. DPN inilah yang harus jadi lahannya dengan APN sebagai profesinya. Tentu juga tidak hanya alumni UNHAN saja yang bisa jadi APN.

Tapi UNHAN yang saat ini menyelenggarakan pendidikan dari D3 sampai S3 seharusnya para alumninya bisa diberdayakan untuk menjadi APN. Ketiga soal bagaimana rancangan struktur organisasi DPN itu sendiri. Sekarang DPN sudah punya Ketua, Ketua Harian, Sekretaris, dan tiga Deputi. Apa iya hanya itu saja? Kan tentu tidak. Masing-masing kedeputian perlu dibreakdown lagi menjadi sub-sub bidang secara spesifik. Pertahanan itu luas lho.
Segala aspek keilmuan dapat terkait dengan pertahanan. Nah bagaimana pembagian aspek-aspek tersebut dalam masing-masing kedeputian, yang nanti akan diisi oleh APN-APN tadi, itu juga jadi poin yang akan saya sampaikan,” jelasnya.

Mengenai kapan waktunya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Menhan. “Yang penting saya sudah menyatakan maksud dan tujuan saya untuk menghadap beliau. Mengenai kapannya, ya saya serahkan sepenuhnya kepada beliau. Kapanpun beliau memanggil, saya siap menghadap!” Demikian pungkas pria kelahiran Jakarta, 17 Agustus 1991 ini.




