Lebih lanjut, Handi meyakini bahwa kehadiran pejabat tinggi Indonesia dalam forum keagamaan global akan memperkuat posisi Indonesia sebagai contoh negara demokrasi yang damai, toleran, dan religius. “Ini bukan hanya diplomasi politik, tetapi juga diplomasi batin,” tuturnya.
KITA menilai bahwa langkah ini selaras dengan misi kebangsaan yang terus diperjuangkan: membangun Indonesia yang damai, inklusif, dan bermartabat di tengah keberagaman. Kehadiran pemerintah dalam ruang keagamaan lintas iman adalah bentuk nyata dari keberpihakan pada nilai kemanusiaan universal.
KITA sebagai gerakan kebangsaan berbasis kerakyatan menegaskan pentingnya harmoni dalam kehidupan beragama sebagai fondasi persatuan nasional. Dalam konteks globalisasi dan meningkatnya ekstremisme, simbol-simbol seperti ini menjadi penting untuk memperkuat narasi perdamaian.
Untuk diketahui Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA) adalah organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan tokoh-tokoh lintas agama, etnis, dan profesi. KITA hadir untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, spiritualitas publik, serta memperjuangkan keadilan sosial melalui pendekatan dialogis dan kultural. Saat ini, KITA dipimpin oleh KH. Maman Imanulhaq sebagai Ketua Umum. Beliau dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama yang aktif di parlemen serta konsisten dalam isu-isu kemanusiaan, kebangsaan, dan keagamaan. Di bawah kepemimpinannya, KITA menjadi ruang bertemunya suara-suara arif lintas golongan demi Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.

