Usulan KITA bukan sekadar retorika sosial, tapi membidik akar dari persoalan sistemik dalam tata kelola olahraga Indonesia. Dalam teori kebijakan publik, hal ini masuk dalam ranah preventive policy—yakni strategi mitigasi risiko melalui instrumen jaminan sosial.

“Negara hadir tidak hanya dalam seremoni, tapi juga dalam protokol perlindungan,” kata Camelia. “Ini soal martabat. Jangan biarkan masa depan atlet ditentukan oleh angka tagihan rumah sakit.”

Kerapatan Indonesia Tanah Air, yang selama ini dikenal sebagai organisasi yang menjembatani aspirasi kerakyatan dengan nilai-nilai kebangsaan, kini menaruh perhatian besar pada dunia olahraga.

Menurut Camelia, dunia olahraga tidak boleh sekadar menjadi panggung prestasi, tapi juga laboratorium nilai kemanusiaan. “Kita butuh pendekatan holistic well-being untuk atlet. Fisik, mental, dan jaminan sosialnya harus utuh,” pungkasnya.

Usulan Camelia ibarat sebuah wake-up call bagi para pemangku kepentingan olahraga nasional. Sudah saatnya negara memaknai atlet sebagai social capital yang tak ternilai.

Karena ketika tubuh mereka terhantam di arena, bukan hanya rasa sakit yang mereka tanggung. Tapi juga kekosongan sistem yang belum sepenuhnya berpihak.

Jas Merah: jangan sekali-kali melupakan atlet. Mereka yang berlari demi kita, seharusnya tidak dibiarkan berjalan sendiri ketika terluka.(Akbar)