Teropongistana.com Mimika, Papua – Dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, gema suara keadilan dari tanah timur Indonesia menggema kuat melalui sosok perempuan tangguh asal Papua, Selepa C. Waromi, SE. Ia bukan hanya simbol perjuangan, tetapi juga wajah keteguhan hati perempuan Papua yang bersuara untuk keterwakilan, keadilan sosial, dan cinta tanah air.

Papua, tanah yang kaya dengan sumber daya alam, termasuk tambang emas terbesar dunia yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, masih menyimpan ironi ketimpangan dan keterasingan masyarakat aslinya dari manfaat kekayaan itu sendiri.

“Freeport Indonesia itu dapur besar milik negara yang ada di tanah Papua, tapi masyarakat Papua hanya jadi penyapu lantainya saja,” ujar Selepa getir.

Selama 16 tahun (2004–2020), Selepa mengabdi di PT Freeport Indonesia sebagai tenaga Human Resources Development (HRD) tanpa menerima gaji. Pengabdian itu bukan demi harta, melainkan untuk memperjuangkan keterlibatan orang asli Papua (OAP), terutama perempuan, dalam dunia kerja dan pembangunan.

“Kami minta satu kursi saja dari seribu kursi yang ada, untuk perempuan Papua. Bukankah itu adil? Bukankah itu semangat Pancasila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?”

Dalam pengamatannya, jabatan-jabatan strategis diisi oleh pendatang, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Representasi masyarakat asli, terutama dari tujuh suku besar di Mimika, disebutnya sangat minim  hanya sekitar 1% yang terlibat langsung dalam sektor tambang.