Workshop ini diikuti oleh puluhan pemuda dari berbagai kecamatan di Pandeglang. Mereka mendapatkan materi langsung dari instruktur Basarnas tentang prinsip dasar penyelamatan, mitigasi bencana, hingga pembentukan jejaring komunitas siaga di tingkat desa dan kelurahan.

Salah seorang peserta, Fitri (23), mengatakan bahwa ini merupakan kali pertama ia mengikuti pelatihan kebencanaan secara langsung.

“Selama ini kami hanya tahu dari berita, tapi sekarang kami dilatih langsung. Saya baru sadar bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tanggung jawab kita semua,” ucapnya penuh semangat.

Ahmad Fauzi menambahkan bahwa daerah-daerah rawan bencana seperti Pandeglang tidak bisa hanya mengandalkan kecepatan tim evakuasi yang datang dari kota. Warga harus menjadi bagian dari sistem perlindungan diri mereka sendiri. Karena itu, ia akan mendorong melalui parlemen agar Basarnas mendapat dukungan anggaran dan regulasi yang lebih kuat dalam pembinaan komunitas di seluruh Indonesia.

“Bukan hanya sekadar datang saat sirine berbunyi. Basarnas harus menjadi mitra tetap masyarakat, hadir sejak sebelum bencana, lewat pelatihan, pembinaan, dan pendampingan. Itulah bentuk kehadiran negara yang sesungguhnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Fauzi menilai bahwa di tengah ancaman perubahan iklim global, frekuensi bencana di masa depan diperkirakan akan meningkat. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan harus mulai memprioritaskan aspek pengurangan risiko bencana dan ketahanan komunitas.

“Pembangunan yang tangguh adalah pembangunan yang mampu berdiri di atas kesiapsiagaan. Dan ketahanan itu bermula dari pengetahuan, lalu latihan, lalu kedisiplinan komunitas. Itu semua harus dimulai sekarang,” pungkasnya.

Ahmad Fauzi berharap kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti sebagai agenda pelatihan, tetapi menjadi gerakan sosial baru di tingkat akar rumput: menciptakan generasi yang sadar risiko, cepat bertindak, dan siap menyelamatkan. (Yusuf/Tim)