Di tengah keraguan terhadap Nusron, nama Meutya Hafid mulai disebut sebagai kandidat alternatif yang lebih kuat dan netral. Menteri Komunikasi dan Digital ini dianggap memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo Subianto dan dinilai sejalan dengan visi pemerintahan saat ini.
Meutya dikenal publik sejak peristiwa penculikannya di Irak pada 2005 saat bertugas sebagai jurnalis Metro TV. Karier politiknya melesat ketika menjabat sebagai Ketua Komisi I DPR RI periode 2019–2024.
Dalam posisi tersebut, Meutya menjadi mitra strategis Kementerian Pertahanan yang kala itu dipimpin Prabowo Subianto, dan dinilai berhasil mengawal berbagai agenda nasional di bidang pertahanan dan diplomasi.
Kini, Meutya Hafid disebut-sebut sebagai kandidat kuat Ketua Umum Golkar dan berpeluang mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin partai besar tersebut.

Jika Munaslub benar-benar digelar akhir 2025, semua mata akan tertuju pada arah suksesi politik di tubuh Partai Golkar. Apakah partai ini akan melakukan reposisi menjauh dari bayang-bayang Jokowi dan merapat ke orbit kekuasaan Prabowo?
Secara kalkulasi politik, Meutya Hafid menjadi pilihan strategis. Ia dianggap bersih dari konflik internal lama, diterima di berbagai faksi partai, serta memiliki kedekatan politik yang kuat dengan Presiden saat ini.
Meski baik Bahlil Lahadalia maupun Nusron Wahid telah menepis isu Munaslub, wacana ini terus menggelinding liar dan mendapat respons luas dari masyarakat.
Satu hal yang pasti, dinamika internal Golkar akan menjadi sorotan tajam dalam beberapa bulan ke depan.





