Satu Dapur Umum SPPG kata Gus Fadhil harus melayani minimal 3000 porsi, artinya beban kerjanya terlalu berat. Karena terlalu berat maka, efektivitas kerja berkurang.

Tak hanya itu, jarak antara masak, pengemasan hingga penyajian dan disantap oleh anak-anak membutuhkan waktu berjam-jam. Dengan demikian telah terjadi kontaminasi zat-zat dalam makanan yang tertutup rapat.

Gus Fadhil berharap pemerintah bisa merespons beberapa sekolah yang sudah berani melakukan uji coba Dapur Sekolah dan sukses.

“Praktek dan fakta sudah ada. Proses berjalan lancar, tidak ada kendala apalagi keracunan, seharusnya pemerintah sudah bisa memutuskan, ” tegasnya.

Seperti diketahui SDN Ngupasan Jogjakarta telah berhasil melakukan uji coba Dapur Sekolah yang disaksikan oleh para pihak mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Babinsa, Babinkamtibmas, Komite, dan Paguyuban Orangtua. Uji coba berjalan lancar di mana para murid melahap makanan tanpa sisa.

Hal ini bisa terjadi karena makanan dimasak di Dapur Sekolah yang memastikan hasil masakannya masih panas.

Hal positif lainnya menurut Gus Fadhil adalah Dapur Sekolah nyata nyata melibatkan masyarakat lokal. Sayur, buah, telor, dan daging dibeli dari para orang tua dan pedagang terdekat, bukan disuplai oleh pengusaha besar. Semua pihak dalam lingkungan sekolah terlibat.