“Mengingat senjata api, jika digunakan dengan bijak, dapat diperuntukkan sebagai alat membela diri yang penggunanya harus kapabel secara psikis dan fisik,” imbuh Jaksa Agung, Senin (14/10/2025)
Terkait tema kompetisi, Jaksa Agung menjelaskan bahwa tema ini selaras dengan upaya Kejaksaan yang senantiasa responsif terhadap perkembangan penegakan hukum modern. Empati dimaknai sebagai kemampuan untuk memahami situasi, perasaan, dan harapan masyarakat.

“Seorang Jaksa yang berempati tidak hanya mengambil keputusan berdasarkan aturan hukum semata, tetapi juga dapat menyeimbangkan antara nilai moral, sosial, dan kemanusiaan. Transformasi Kejaksaan sejatinya adalah perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak seluruh insan Adhyaksa dalam menjalankan tugas, bukan hanya diukur dari kemajuan teknologi atau perbaikan struktur organisasi,” katanya.
Menurut Jaksa Agung, Kejaksaan tidak hanya menjadi institusi yang modern, adaptif, dan transparan, tetapi juga lembaga yang penuh empati, humanis, dan berintegritas. “Kejaksaan harus hadir sebagai pelindung kepentingan masyarakat dan menjamin ditegakkannya keadilan,” tegasnya.
Jaksa Agung berharap kegiatan ini dapat mendukung para shooter dan atlet menembak, khususnya Para Jaksa, agar dapat mengasah kemampuan dan keterampilan menembak sehingga mampu mendukung tugas pokok dalam penegakan hukum.
“Saya harap kegiatan ini menjadi momen rutin tahunan yang mampu mencetak atlet menembak berdaya saing di ranah nasional maupun internasional,” pungkas Jaksa Agung.

Kategori Pertandingan
Sementara Ketua Umum ASC, Dr Masyhudi SH MH, dalam sambutannya menjelaskan kategori dipertandingkan, antara lain: Tembak Reaksi IPSC Level II, Tembak Eksekutif, Tembak Presisi, Air Rifle dan Air Pistol.

“Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan dalam rangka memperebutkan Piala Jaksa Agung RI,” pungkas Dr Masyhudi SH MH, yang juga Staf Ahli Jaksa Agung itu.
Berdasarkan data Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin), jumlah anggota aktif Perbakin saat ini telah melampaui 35 ribu orang, dengan peningkatan hampir 20 persen sejak tahun 2022.
Kecenderungan tersebut menunjukkan bahwa menembak tidak lagi sekadar olahraga eksklusif, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan industri olahraga baru yang menjanjikan. Perkembangan penjualan senjata olahraga, peralatan menembak, serta fasilitas latihan modern menjadi indikator tumbuhnya ekosistem positif di bidang ini.




