Dari sisi kemandirian ekonomi, KH. Asep dikenal sebagai ulama dengan kapasitas ekonomi yang kuat dan sikap dermawan. Pergunu menilai kemandirian tersebut penting agar kepemimpinan keulamaan NU tetap objektif, tidak mudah terpengaruh kepentingan pragmatis, serta fokus pada kemaslahatan umat dan pendidikan.

“Kemandirian ekonomi Kiai Asep memberi jaminan etik bahwa kepemimpinan keulamaan dapat dijalankan secara independen, penuh tanggung jawab, dan berpihak pada kemaslahatan jam‘iyyah,” tegas Dr. Aris.

Pergunu juga mencatat kiprah kebangsaan KH. Asep yang mendapatkan pengakuan negara melalui penganugerahan Bintang Mahaputera Narayana atas dedikasinya dalam memajukan pendidikan dan pesantren.

Di bidang akademik, KH. Asep merupakan tokoh pesantren yang meraih gelar guru besar, yang dikukuhkan di UIN Sunan Ampel Surabaya, serta tetap memiliki kedekatan dengan para kiai khos dan kiai kampung di berbagai lapisan NU.

“Perpaduan antara tradisi pesantren, kapasitas akademik, dan wawasan kebangsaan menjadikan Kiai Asep figur pemersatu yang dibutuhkan NU hari ini dan ke depan,” kata Dr. Aris.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Pergunu memandang Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai salah satu figur yang memiliki kapasitas keulamaan, keteladanan, dan pengalaman untuk menjaga marwah Rais ‘Aam PBNU serta memperkuat peran strategis Nahdlatul Ulama dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan.

Pergunu menegaskan bahwa dukungan ini disampaikan dalam semangat musyawarah, keikhlasan, dan khidmah jam‘iyyah, serta tetap menghormati mekanisme dan tradisi organisasi Nahdlatul Ulama.