Namun, strategi ini dinilai memiliki konsekuensi jangka panjang. Ketika identitas partai terlalu melekat pada satu figur, daya tawar partai bisa melemah jika dinamika politik berubah. Selain itu, ruang dialog kebijakan berisiko tergeser oleh narasi personalisasi politik yang berkepanjangan.

Arifki menambahkan, deklarasi cepat juga memperpanjang suhu kompetisi politik nasional. Polarisasi tidak lagi muncul menjelang pemilu, tetapi berpotensi menjadi latar permanen dalam kehidupan politik sehari-hari.

“Pilpres 2029 belum resmi dimulai, tetapi cara berpikir elite politik sudah berada di tahun itu. Ini pertanda bahwa siklus politik kita makin pendek, sementara masa kampanye makin panjang,” ujarnya.

Ia menutup dengan catatan bahwa publik perlu memahami dinamika ini sebagai perubahan irama demokrasi.

“Pilpres 2029 belum dekat secara kalender, tetapi secara politik sudah mulai berjalan. Siapa cepat menyiapkan diri dan mengunci kendaraan, dialah yang lebih siap memasuki arena,” pungkasnya.