Teropongistana.com Jakarta – Pada 16 April 2025 sekitar pukul 15.00 WIB, sejumlah orang yang mengaku dari tim kurator tiba-tiba mendatangi rumah Bintoro Iduansjah di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Mereka ingin mengeksekusi rumah Bintoro yang diklaim sebagai bagian dari proses kepailitan.
Kedatangan tim kurator yang bernuansa intimidatif membuat Bintoro dan keluarganya shock, apalagi mereka dipaksa keluar dari rumah saat itu juga. Permintaan mendadak dan semena-mena itu ditolak oleh Bintoro. Tim kurator meradang lalu menggembok paksa pagar rumah dengan rantai yang sudah disiapkan. Mereka nekat melakukan itu meskipun tahu di dalam rumah masih ada istri dan anak perempuan Bintoro yang sedang sakit.
Bintoro yang didampingi Satpam Perumahan, perangkat RT dan RW, serta perwakilan dari Polsek dan Polres Jakarta Selatan hanya bisa menyaksikan perbuatan tim kurator. Ironisnya, satu tahun berlalu sejak kejadian ini, anak-istri Bintoro masih terkurung di rumah dengan pagar setinggi lebih 3 meter itu.
Istri Bintoro bernama Dwi Indah, saat ditemui belum lama ini, menceritakan kondisinya dan anak perempuannya dari balik pagar. Selama satu tahun terakhir, dia mengaku berusaha tegar dan bertahan hidup dengan segala keterbatasan yang ada.
“Saya dan anak saya dikurung seperti tahanan. Kebebasan kami dirampas sejak rumah ini digembok secara paksa setahun lalu. Padahal kami ini bukan koruptor, kami justru korban dari konspirasi koruptor yang telah mengambilalih perusahaan kami dan mempailitkan Pak Bintoro,” ungkapnya dengan suara terbata-bata dari balik pagar.
Dwi mengaku sering merasa sangat tertekan dan sedih karena diteror oleh sekelompok ‘preman’ suruhan kurator agar keluar dari rumahnya.
