Pada tahap awal pembangunan, pihak Podomoro Park sempat melakukan pengerukan sungai menggunakan alat berat. Namun, belakangan akses ke sungai praktis tertutup setelah dibangunnya sekat di sepanjang ruas sungai yang masuk zona Podomoro Park, yang dinilai menyulitkan upaya normalisasi lanjutan. Di sisi lain, bantaran sungai terus melebar dan menekan badan sungai.

“Dulu hanya cileuncang, kurang dari satu jam juga sudah surut. Jalan di sini juga sengaja pakai konblok supaya air cepat meresap. Itu sudah diantisipasi sejak awal oleh pengembang D’Amerta, termasuk dengan penanaman banyak pohon, karena lokasinya beririsan dengan sungai,” ujar Sukmaya, warga yang rumahnya terdampak banjir di RT 6.

Menurut Sukmaya, kondisi tersebut berlaku saat fungsi sungai masih normal. Manakala sungai mengalami penyempitan dan pendangkalan, risiko banjir meningkat. “Sekarang sungai bermasalah, tapi tidak ada langkah teknis yang memadai. Akses ke sungai juga sulit karena sudah disekat dari kanan-kiri,” ujarnya.

Warga mengingatkan bahwa sekitar satu dekade lalu, sungai tersebut masih berfungsi sebagai saluran air bagi sawah dan kolam milik petani di kawasan Ciganitri. Seiring perubahan tata guna lahan menjadi kawasan permukiman, fungsi resapan dan distribusi air berkurang. Air tidak lagi mengalir ke area persawahan, melainkan tertahan di saluran yang semakin sempit dan dangkal.

Kondisi ini menyebabkan muka air sungai meningkat signifikan saat hujan deras, terutama jika sebelumnya terjadi hujan di wilayah hulu. Dalam beberapa kejadian, kenaikan muka air bahkan mencapai sekitar satu meter dari kondisi normal.

Warga berharap ada langkah penanganan permanen dari pihak terkait, termasuk normalisasi sungai melalui pengerukan dan pelebaran, serta penataan ulang akses dan struktur bantaran. Tanpa intervensi menyeluruh, ancaman banjir dinilai akan terus berulang dan berpotensi semakin meluas.