• Paru-Paru Dunia Bukan Aset Dagang: Hutan Papua bukan sekadar komoditas. Merusaknya berarti mengundang bencana iklim global yang dampaknya akan dirasakan hingga anak cucu di masa depan.

• Masyarakat Adat adalah Penjaga, Bukan Penghambat: Masyarakat adat telah menjaga ekosistem ribuan tahun sebelum Republik ini berdiri. Menstempel mereka sebagai penghambat pembangunan adalah kekeliruan sejarah yang fatal.

• Pembangunan vs Perampasan: Tanah adat memiliki nyawa dan identitas. Mengambilnya tanpa restu masyarakat lokal bukan lagi disebut pembangunan, melainkan perampasan hak hidup.

• Kebenaran yang Tak Bisa Dibubarkan: Menanggapi maraknya pembubaran acara serupa di Ternate hingga Mataram, Abah Elang menegaskan bahwa represi justru memvalidasi kebenaran isi film tersebut. “Kalian bisa membubarkan nobar, tapi tidak bisa membubarkan kebenaran,” tegasnya.

Pesan Moral untuk Pemimpin
Menutup pernyataannya dengan nada yang dalam dan filosofis, tokoh kharismatik Banten ini mengingatkan bahwa kedaulatan sebuah negara diukur dari caranya memperlakukan alam.

“Jaga tanah ini bukan karena tekanan dunia, tapi karena tanah ini adalah ibu kita. Seorang pemimpin yang baik tidak akan pernah menjual ibunya,” pungkas Abah Elang.

Konsolidasi aktivis di Banten ini diprediksi akan terus berlanjut sebagai bagian dari solidaritas nasional menolak perampasan ruang hidup masyarakat adat di seluruh penjuru nusantara.