Jerry pun memuji ketegasan aparat hukum yang dinilainya bekerja berdasarkan hati nurani dan kejujuran. Ia menyebut Hakim serta Jaksa Penuntut Umum bukanlah orang yang bisa dibodohi. Hal ini terlihat dari putusan berat yang dijatuhkan. Awalnya dijatuhi hukuman 27 tahun penjara, kemudian disesuaikan menjadi 18 tahun, namun kini ancaman hukuman kembali diperberat.
“Putusan berat ini dijatuhkan karena fakta kekayaan Nadiem yang bertambah drastis hingga mencapai Rp3,6 triliun, angka yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak sebanding dengan riwayat karirnya. Hakim dan Jaksa adalah orang jujur yang melihat kebenaran ini,” ujarnya.
Kebijakan Merusak, Kualitas Pendidikan Ambruk
Selain kasus korupsi uang negara, Jerry Massie menyoroti kehancuran sistem pendidikan Indonesia yang dinilainya terjadi akibat kebijakan-kebijakan yang dibuat Nadiem Makarim. Berbagai kebijakan yang dilahirkan justru dianggap membodohi generasi muda dan menjauhkan dari kualitas ilmu pengetahuan.
Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar misalnya, dinilai gagal mencerdaskan bangsa. Faktanya, banyak siswa mulai dari SD hingga SMP ditemukan tidak mampu membaca. Berbagai hal positif dihapus begitu saja; Pramuka ditiadakan, mata pelajaran PMP dimusnahkan, jurusan IPA dan IPS disatukan secara aneh tanpa landasan ilmiah, hingga hampir melegalkan ijazah palsu dengan narasi “ijazah tak penting dan belajar di sekolah tak wajib”.
“Pendidikan dia jadikan ladang bisnis. Dia bikin biaya pendidikan makin mahal lewat UPT-nya. Dia juga menunjuk staf ahli yang notabene masih sangat muda, dianggap belum berpengalaman, atau sekadar anak-anak ingusan yang tak paham dunia pendidikan. Ini menjadikan Nadiem sebagai Menteri Pendidikan dan Ristek paling buruk sepanjang sejarah Indonesia,” kritik Jerry.
Tak hanya itu, latar belakang Nadiem dinilai tidak memenuhi syarat untuk memimpin sektor strategis ini. Ia tidak pernah mengenyam pengalaman menjadi guru, kepala sekolah, dosen, maupun rektor, namun langsung duduk di kursi tertinggi pendidikan nasional. Padahal saat menjabat pun, Nadiem dinilai arogan dan tertutup; tidak pernah mau mendengar masukan para rektor, tidak mau berkunjung ke kampus, dan menutup diri dari saran akademisi.
Akibat kebijakan yang semrawut tersebut, dampaknya sangat fatal. Di era kepemimpinannya, tingkat Kecerdasan Intelektual (IQ) masyarakat Indonesia disebut turun hingga posisi terendah di dunia, bahkan diklaim berada di angka 78, yang mana angka tersebut dinilai sangat memprihatinkan.
Hukuman Diperberat
Menutup analisisnya, Jerry Massie menyatakan hukuman penjara yang kini makin berat merupakan konsekuensi logis. Hal ini disebabkan sikap Nadiem yang dinilai berkelit, tidak kooperatif saat persidangan, dan menghambat proses hukum.
“Hukumannya diperberat karena dia menghambat pemerataan pendidikan, memperkaya diri sendiri, dan menimbulkan kerugian negara yang sangat besar. Semua dosa besar ini kini mulai terungkap dan dibayar mahal di meja hijau,” pungkas Jerry Massie.