“Mengapa kunjungannya begitu intens? Jawabannya simpel: karena dunia yang meminta Indonesia hadir. Di tangan Pak Prabowo, Indonesia tak lagi berposisi sebagai objek pasif, melainkan subjek yang menentukan arah permainan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Prabowo membawa posisi tawar yang sangat kuat. Indonesia kini dipandang sebagai raksasa ekonomi baru, suara terwakili negara berkembang (Global South), serta penyangga stabilitas di Asia Tenggara.

“Saat Pak Prabowo melawat, beliau tidak sedang mengetuk pintu meminta bantuan. Beliau hadir memenuhi undangan sebagai pemain kunci dunia. Kita harus ubah pola pikir tersebut,” tandasnya.
Lebih jauh, Sugiat menegaskan pola diplomasi Prabowo berjalan seimbang, menyapa negara-negara mitra baik dari blok Barat maupun Timur. Hal ini merupakan wujud nyata implementasi prinsip politik luar negeri bebas aktif yang menjadi warisan bangsa.
“Dulu kebijakan luar negeri kita dianggap kurang aktif. Kini, Pak Prabowo bergerak dinamis, berjejak ke Barat dan Timur secara adil. Pesannya jelas: Indonesia bersahabat dengan siapa saja, namun tidak bisa didikte oleh pihak mana pun. Itulah esensi kedaulatan,” katanya.
Ia juga menepis anggapan bahwa aktivitas luar negeri Presiden tidak berdampak langsung pada rakyat. Sebaliknya, seluruh kesepakatan yang dibangun bertujuan memperkuat fondasi kesejahteraan di dalam negeri, mulai dari ketahanan pangan, energi, hingga transfer teknologi dan investasi.

“Banyak yang berpikir urusan luar negeri itu jauh dari rakyat. Padahal justru di sanalah kuncinya. Saat beliau bicara energi, pangan, atau pertahanan di forum internasional, tujuannya tunggal: memastikan pasokan dalam negeri aman, investasi masuk, dan lapangan kerja terbuka lebar,” jelasnya.
Sugiat menilai Prabowo adalah tipe pemimpin yang bekerja cepat, terukur, dan fokus pada hasil konkret. Setiap agenda luar negeri disusun rapi dengan target pencapaian yang jelas, mulai dari kesepakatan strategis hingga pengakuan dunia terhadap posisi Indonesia.

“Dunia bergerak secepat kilat. Diplomasi lewat surat atau obrolan santai di meja makan sudah tak mempan. Pak Prabowo bekerja dengan hitungan pasti, apa yang dibawa pergi, apa yang harus dibawa pulang, semuanya terukur,” tegasnya.
Di akhir pernyataan, Sugiat menegaskan Partai Gerindra tetap menjaga sikap terbuka terhadap kritik dan masukan, termasuk dari Dino Patti Djalal. Ia justru mengajak para pakar hubungan internasional untuk berkolaborasi memberikan saran konstruktif demi kemajuan bangsa.

“Bagi kami, kritik dari tokoh seperti Pak Dino adalah vitamin bagi demokrasi. Kami justru mengundang beliau dan para ahli lain untuk turut memberi masukan. Mari kita kawal bersama, agar posisi Indonesia yang sedang kuat-kuatnya di dunia ini, bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat,” pungkasnya.






