“NU dengan prinsip aswajanya menekankan pentingnya dia berguru pada siapa, bagaimana sanad keilmuannya di mana pesantrennya dan bagaimana afiliasinya,” pungkas Kiai Maman.

Yang ketiga adalan NU itu sendiri. NU menurut Anggota DPR RI Komisi VIII ini hadir di Indonesia ini untuk menjaga akidah aswaja, menekankan kembali komitmen hubbul wathon minal Iman, mencintai tanah air adalah komitmen dari keimanan. NU pun bergerak di seluruh bidang, tidak hanya bidang pendidikan namun juga ekonomi bahkan kebudayaan. Hadirnya pesantren-pesantren yang hampir 27 ribu, dengan 1,4 juta santri yang mukim dan penyebaran alumni itu mayoritas dimiliki NU.

Baca JugaPresiden Buka Muktamar ke – 34 NU di LampungRabu, 22 Desember 2021
Presiden Buka Muktamar ke - 34 NU di Lampung

“Dengan kekuatan itu NU pernah memiliki presiden, hari ini wakil presiden, menteri, gubernur, dan terutama kiai-kiai di tengah kampung yang terus menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan kecintaan terhadap Tanah Air,” imbuh Kiai Maman.

Poin keempat adalah komitmen dalam mencintai Indonesia. Kiai Maman menegaskan bahwa NKRI adalah harga mati yang harus dijaga. Dengan NKRI inilah pemeluk agama bisa menjalankan ibadahnya dengan tenang, hak milik tiap individu terjaga, keselamatan jiwa terjaga, dan peradaban bangsa dapat tumbuh dan dilestarikan.

Di akhir tausyiahnya kiai Maman mengingatkan kembali kasus Herry Heryawan, predator seks dari Cibiru. Ia menegaskan bahwa kejadian mengenaskan itu tidak boleh terjadi lagi. Makanya, kata Kiai Maman, pesantren NU harus lebih selektif untuk membina para alumninya dan juga mengawasi gerak-geriknya termasuk masyarakat diminta untuk terus melakukan sinergitas dengan pesantren-pesantren yang ada. Kiai Maman yakin bahwa tidak ada satupun pesantren dan juga kiai NU yang akan melakukan kekerasan apalagi kekerasan seksual terhadap anak-anak yang justru menjadi tanggung jawabnya untuk diberi kasih sayang.