“Sebagai konsekuensinya, setiap individu dosen/periset di UNS difasilitasi untuk move on menjadi peneliti yang reputasinya diakui mendunia. Jika setiap Dosen/periset difasilitasi dana riset, maka jumlah publikasinya akan minimal sama dengan jumlah perisetnya. Publikasi hasil risetnya pun harus diarahkan pada publikasi internasional yang terindeks pada database bereputasi internasional. Namun demikian, tematik riset-inovasinya wajib mengikuti RIRN,” kata Prof. Kuncoro.

Sebagai gambaran, lanjut pakar material komposit UNS ini, pendanaan riset di UNS untuk tahun 2022-2024, tetap mengacu pada Program Riset nasional (PRN) 2022-2024, yaitu Bidang Pangan, Energi, Kesehatan, Transportasi, Rekayasa Keteknikan, Pertahanan dan Keamanan. Kemaritiman, Sosial Humaniora, Pendidikan, Seni, dan Budaya, Multidisiplin dan Lintas Sektoral.

Dia mengatakan tugas utama Lembaga Riset dan para peneliti adalah, pertama, melakukan riset dengan baik sesuai arah PRN dan RIRN, kedua, menghilirkan roadmap riset perisetnya hingga menuju kemanfaatannya di masyarakat, dan ketiga, mempublikasikan tahapan-tahapan hasil riset ke jurnal internasional yang bereputasi.

Bahkan untuk mencapai target RIRN 2045, analisis komparasi ke negara maju juga direkomendasikan agar lembaga riset dan para perisetnya melakukan ekstrapolasi atas kondisi dan proses keberhasilan.

“pembangunan ekonomi Korea Selatan hingga menjadi negara maju pada tahun 2014” sebagai acuan untuk Indonesia pada tahun 2040.

“Upaya keras pencapaian target RIRN 2045 adalah untuk mewujudkan Indonesia 2045 Berdaya Saing dan Berdaulat Berbasis Riset. Ini harus didukung semua pemangku kepentingan,” kata Guru Besar UNS yang menyandang gelar profesor pada usia 39 tahun ini.